Bangunan Bersejarah Kota Bandung Dengan Penuh Cerita

Bangunan Bersejarah Kota Bandung – Sekelompok arkeolog membuat penemuan mengejutkan mengenai peradaban pertama di Bandung. Setelah melalui proses penelitian mendalam, mereka meyakini bahwa spesies Homo Erectus pernah bermukim di tepi sungai Cikapundung sekitar 1,5 juta tahun lalu. Namun tentu saja, pada masa pra-sejarah kota yang kita kenal dan cintai ini belum dikenal dengan sebutan ‘Bandung,’ karena rujukan awal mengenai wilayah ini baru muncul di tahun 1488.

500 tahun berselang setelah Bandung resmi dikenal publik, kota ini telah berubah menjadi wilayah metropolitan terbesar ke-2 di Indonesia dengan lebih dari 2,5 juta penduduk. Paris Van Java yang dahulu dipadati dengan bangunan bergaya klasik Eropa kini berubah menjadi kota modern akibat kepesatan perkembangannya. Tapi, jangan khawatir, jika Anda berencana mengunjungi Bandung dalam waktu dekat, Anda masih bisa melihat sejumlah bangunan bersejarah yang menjadi saksi bisu perkembangan kota selama berabad lamanya.

Berikut Bangunan Bersejarah Kota Bandung

  • Kantor Berita Domei

Berada di bawah naungan Kekaisaran Jepang, Domei Tsushin merupakan kantor berita yang terbentuk melalui penggabungan dua lembaga berita utama Jepang, Nihon Shimbun Rengosha dan Nehon Dempo Tsushinsha pada tahun 1935. Selama masa pendudukan Jepang di Indonesia, asosiasi pers milik militer Jepang, Hobokan, mengeluarkan undang-undang yang membatasi ruang gerak agensi-agensi berita tanah air. Hal inilah yang kemudian memaksa media Antara untuk berganti nama menjadi Domei demi memperoleh izin cetak dan siaran.

Berlokasi di Jalan Braga No. 25, para wisatawan dapat melihat lokasi yang pernah menjadi saksi sejarah saat ahli mesin telegram bernama Syahrudin menerima berita pembacaan Proklamasi oleh Ir. Soekarno di Jakarta. Ia pun memutuskan untuk menulis pesan ini dan mengirimkannya pada Adam Malik. Meski kini Anda tidak lagi dapat melihat tanda ‘Domei’ yang pernah terpasang di bagian depan gedung, namun kisah panjang yang dilaluinya pasti akan membuat kunjungan Anda menjadi lebih bermakna.

  • Bank Denis

Dikelilingi berbagai hotel di Bandung serta bangunan-bangunan modern lainnya, De Eerste Nederlands-Indische Soaarkas en Hypotheek Bank atau dikenal dengan sebutan Denis Bank menjadi lokasi yang akan kami bahas selanjutnya. Dibangun pada Juni 1936, penulis Her Suganda menyebut bahwa Denis pernah menjadi salah satu bank dan perusahaan asuransi terbesar di Bandung. Bangunan bergaya art deco ini dirancang oleh Albert Frederik Aalbers, seorang arsitek berkebangsaan Belanda yang juga menjadi arsitek dari berbagai villa, hotel, serta gedung perkantoran paling terkenal di Bandung selama masa kolonial.

Bank Denis berubah mejadi landmark bersejarah setelah satu peristiwa heroik yang terjadi pada Oktober 1945. Para pemuda di wilayah Bandung merasa bahwa bendera ‘Merah Putih Biru’ harus disingkirkan dari bumi parahyangan untuk selamanya. Beberapa pria pun mulai memanjat menara Bank Denis, namun hanya dua yang berhasil mencapai puncak. Mereka adalah Mohammad Endang Karmas dan Mulyono. Keduanya pun berhasil merobek kain biru dari bendera tersebut hingga hanya tersisa bagian merah dan putihnya.

  • Indonesia Menggugat

Berlokasi 4 km dari House Sangkuriang di jalan Dago, Gedung Indonesia Menggugat merupakan situs bersejarah yang berfungsi sebagai gedung pengadilan pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Dibangun pada tahun 1907, gedung yang juga dikenal dengan sebutan Landraad ini menjadi lokasi di mana Ir. Soekarno membacakan pembelaannya yang berjudul ‘Indonesia Menggugat.’ Pada 1930, bersama rekan-rekannya, Soekarno dijebloskan ke dalam penjara atas tuduhan telah menyusun rencana untuk menggulingkan kekuasaan VOC. ‘Indonesia Menggugat’ pun ditulis oleh Soekarno dari balik jeruji besi untuk menceritakan kisah pertentangannya terhadap sistem kolonialisme dan imperialisme.

Hampir satu abad setelah peresmiannya, Gedung Indonesia Menggugat telah mengalami banyak perubahan fungsi. Hingga akhirnya bangunan yang terletak di jalan Perintis Kemerdekaan ini kembali beralih fungsi sebagai museum di tahun 2002. Para wisatawan dari berbagai penjuru negeri pun kini dapat menyaksikan jejak-jejak peninggalan sejarah dari para tokoh yang telah berjasa dalam membantu kelahiran bangsa Indonesia.