Penyebab Disfungsi Ereksi di Usia Muda

Disfungsi ereksi, atau dikenal juga dengan impotensi, merupakan ketidakmampuan untuk memulai atau mempertahankan ereksi saat berhubungan intim. Kondisi ini akan muncul berulang sehingga menimbulkan masalah dalam kehidupan seksual yang aktif. Baik penderita maupun pasangan tentunya akan sama-sama terganggu.

Sering kali masalah disfungsi ereksi dikaitkan dengan pria lanjut usia. Sayangnya, hal ini tidak selalu benar. Studi tahun 2013 yang dilaporkan pada Journal of Sexual Medicine menyebutkan bahwa kondisi ini dapat ditemukan pada 26% persen pria di bawah usia 40 tahun. Lebih lanjut, setengah dari pria usia muda yang impoten ternyata memiliki bentuk berat dari kondisi ini.

Terdapat tiga gejala utama disfungsi ereksi, sehingga umumnya cukup mudah dikenali: ketidakmampuan mendapatkan ereksi, ketidakmampuan mempertahankan ereksi cukup lama untuk berhubungan intim, serta kesulitan mendapatkan ereksi yang cukup kuat untuk berhubungan intim.

Faktor psikologis sangat berperan


Disfungsi ereksi pada pria usia muda banyak disebabkan oleh faktor psikologis, dimana kecemasan sering kali menjadi pemicu utama. Hal ini bisa meliputi kekhawatiran akan performa seksual, kekhawatiran menghamili pasangan, kekhawatiran kehilangan ereksi jika menggunakan kondom, dan seterusnya.

Stres serta depresi juga berperan menurunkan libido, yang kemudian berkontribusi terhadap disfungsi ereksi. Selanjutnya, masalah dalam hubungan serta kurangnya komunikasi dengan pasangan juga bisa menimbulkan masalah seksual.

Selain faktor psikologis, faktor fisik seperti penyempitan pembuluh darah juga dapat menimbulkan impotensi. Hal ini disebabkan sulitnya aliran darah masuk penis melalui pembuluh darah yang menyempit. Kondisi ini dapat berkaitan dengan penyakit seperti tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, dan sebagainya.

Berbagai penyebab lain dari disfungsi ereksi, antara lain ketidakseimbangan hormonal (misalnya akibat penggunaan steroid, rendahnya hormon testosteron, serta abnormalitas hormon tiroid dan prolaktin), penggunaan obat-obatan tertentu (misalnya antidepresan, antihipertensi, dll), serta kelainan anatomis pada penis (misalnya fimosis atau Peyronie).

Gaya hidup juga menjadi pemicu
Menariknya, gangguan seksual ini juga dapat disebabkan gaya hidup penderitanya yang tidak sehat. Misalnya saja kebiasaan merokok yang sering dilakukan pria Indonesia sejak usia dini. Ternyata, merokok lebih dari 20 batang per hari meningkatkan risiko disfungsi ereksi hingga 60%.

Penyalahgunaan alkohol juga berpengaruh, namun konsumsi dalam jumlah wajar tidak dikaitkan dengan disfungsi ereksi. Selain itu, obesitas ikut berperan dalam terjadinya disfungsi ereksi akibat hormon testosteron yang rendah serta sirkulasi yang buruk. Obesitas bisa disebabkan pola makan yang buruk atau berlebih, serta jarang melakukan aktivitas fisik seperti olahraga.

Mengingat banyaknya kemungkinan penyebab disfungsi ereksi pada usia muda, maka seseorang dengan kondisi ini perlu didiagnosis oleh tenaga ahli sehingga penyebabnya pun dapat diidentifikasi. Hal ini berkaitan dengan terapi yang akan diberikan, karena dapat bervariasi tergantung dari penyebab impotensi.

Misalnya saja, impotensi yang disebabkan kecemasan akan performa seksual dapat diatasi dengan komunikasi yang baik dengan pasangan. Namun, apabila disebabkan kegemukan maka menurunkan berat badan hingga mencapai berat ideal adalah solusinya.

Jadi, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter seputar masalah disfungsi ereksi Anda, walaupun hal ini mungkin membuat Anda malu atau tidak nyaman. Anda tidak sendirian, dan pastinya dokter sudah banyak menangani kondisi yang sama dengan yang Anda alami. Semoga membantu!